Sabtu, 24 Maret 2012
BIJI KELOR SEBAGAI PEJERNIH AIR SELAIN TAWAS
Padahal masyarakat dapat
memanfaatkan air sungai dengan lebih nyaman
dan terjamin kebersihannya apabila mampu
menerapkan hasil penelitian seorang dosen dari
Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas
Mulawarman (Samarinda) yang diadopsi dari
Negara Sudan, dan kemudian dikembangkan di
wilayah tersebut.
Adalah Enos Tangke Arung, MP, dosen Fahutan
Unmul yang menemukan biji kelor dan
menyulapnya menjadi ”serbuk ajaib” yang dapat
mengubah air keruh dengan partikel tanah
maupun unsur logam menjadi air bersih layak
konsumsi, dan memenuhi standar baku mutu
yang ditetapkan.
Endapkan Partikel Logam
Biji buah kelor (Moringan oleifera) mengandung
zat aktif rhamnosyloxy-benzil-isothiocyanate,
yang mampu mengadopsi dan menetralisir
partikel-partikel lumpur serta logam yang
terkandung dalam air limbah suspensi, dengan
partikel kotoran melayang di dalam air.
Penemuan yang telah dikembangkan sejak
tahun 1986 di negeri Sudan untuk menjernihkan
air dari anak Sungai Nil dan tampungan air
hujan ini di masa datang dapat dikembangkan
sebagai penjernih air Sungai Mahakam dan
hasilnya dapat dimanfaatkan PDAM setempat.
”Serbuk biji buah kelor ternyata cukup ampuh
menurunkan dan mengendapkan kandungan
unsur logam berat yang cukup tinggi dalam air,
sehingga air tersebut memenuhi standar baku
air minum dan air bersih,” katanya.
Disebutkan, kandungan logam besi (Fe) dalam
air Sungai Mahakam yang sebelumnya
mencapai 3,23 mg/l, setelah dibersihkan
dengan serbuk biji kelor menurun menjadi 0,13
mg/l, dan telah memenuhi standar baku mutu
air minum, yaitu 0,3 mg/l dan standar baku
mutu air bersih 1,0 mg/l.
Sedangkan tembaga (Cu) yang semula 1,15 mg/
I menjadi 0,12mg/l, telah memenuhi standar
baku mutu air minum dan air bersih yang
diperbolehkan, yaitu 1 mg/l, dan kandungan
logam mangan (Mn) yang semula 0,24 mg/l
menjadi 0,04 mg/l, telah memenuhi standar
baku mutu air minum dan air bersih 0,1 mg/l
dan 0,5 mg/l.
Arang
Namun apabila air tersebut dikonsumsi untuk
diminum, aroma kelor yang khas masih terasa,
oleh sebab itu, pada bak penampungan air
harus ditambahkan arang yang dibungkus
sedemikian rupa agar tidak bertebaran saat
proses pengadukan. Arang berfungsi untuk
menyerap aroma kelor tersebut.
Selain itu, dari hasil uji sifat fisika kualitas air
Sungai Mahakam dengan parameter kekeruhan
yang semula mencapai 146 NTU, setelah
dibersihkan dengan sebuk biji kelor menurun
menjadi 7,75 NTU, atau memenuhi standar
baku air bersih yang ditetapkan, yaitu 25NTU.
Untuk parameter warna yang semula sebesar
233 Pt.Co menjadi 13,75 Pt.Co, atau telah
memenuhi standar baku mutu air minum dan
air bersih 15 Pt.Co dan 50 Pt.Co.
Membuat Serbuk
Cara memperoleh serbuk tersebut cukup
sederhana, yaitu dengan menumbuk biji buah
kelor yang sudah tua hingga halus, kemudian
ditaburkan ke dalam air limbah, dengan
perbandingan tiga sampai lima miligram untuk
satu liter air dan diaduk cepat. Dalam waktu 10
hingga 15 menit setelah pengadukan, partikel-
partikel kotoran yan terdapat di dalam air akan
menyatu dan mengendap, sehingga air menjadi
jernih.
Enos, yang juga kepala Laboratorium Pulp dan
Kertas Fahutan Unmul mengatakan, pihaknya
juga telah membuat ekstraktif kelor dengan
konsentrasi lima persen, yaitu dengan merebus
lima gram tepung biji kelor ke dalam 100 ml air
hingga mendidih dan disaring.
”Air saringan kelor ini dapat digunakan untuk
menjernihkan air, caranya dengan mencampur
tiga hingga lima militer ekstrak biji kelor ke
dalam satu liter air dan diaduk dengan cepat,”
katanya. Disebutkan, dalam satu polong buah
kelor terdapat 10 hingga 15 biji kelor dengan
berat masing-masing biji sebesar 2,5 gram
tanpa kulit ari, dan dari 10 biji kelor dapat
dibuat menjadi serbuk untuk menjernihkan air
sebanyak 40 liter.
Lebih Ekonomis
Kepala laboratorium pengujian air PDAM Unit
Cendana (Samarinda), Alimudin mengakui, cara
tersebut lebih ekonomis dibanding
menggunakan sistem penjernihan air dengan
bahan baku tawas yang digunakan selama ini.
Perbedaan penjernihan air dengan
menggunakan tawas dan serbuk biji kelor adalah
pada lamanya waktu pengendapan partikel
setelah pengadukan, yaitu hanya lima menit,
sedangkan dengan serbuk kelor mencapai 10
hingga 15 menit. Karena tawas jarang
diproduksi di Kaltim, pihak PDAM Samarinda
mendatangkan tawas dari luar daerah, yaitu
dari Sulawesi (Manado) dan Kupang. Tawas
tersebut dicampur dengan aluminium dan sulfat
sebelum digunakan untuk menjernihkan air
sungai.
Menurut Enos Tangke, penggunaan serbuk biji
kelor lebih ekonomis dibanding tawas, apalagi
tanaman kelor dapat dibudidayakan di Kaltim,
sementara daun dan buahnya yang masih muda
pun dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan.
Enos yang juga dosen pengasuh mata kuliah
Pengendalian Pencemaran menambahkan,
tanaman kelor yang dikembangbiakkan dengan
biji dan stek dapat tumbuh dengan cepat di
daerah berair, sehingga dapat dimanfaatkan
untuk dibudidayakan di sekitar daerah aliran
sungai (DAS) Mahakam.
”Dalam tiga bulan pertama tumbuhan tersebut
sudah cukup besar dan enam bulan kemudian
sudah berbuah dan bisa dimanfaatkan bijinya,”
katanya.
Oleh sebab itu, tambahnya, memanfaatkan
kelor untuk menjernihkan air merupakan
alternatif terbaik dan lebih ekonomis, efisien
serta turut melestarikan lingkungan dengan
membudidayakan tanaman tersebut di sekitar
DAS.(Aspek-35)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar